Belum Tentu dinding itu tembok, bisa jadi hanyalah Tirai

dailami inisiator psb-uia_310_230  Kecerdasan,dan kekuasaan bukan hanya anugerah, melainkan juga amanah Tuhan untuk bisa dimanfaatkan bagi kepenting umat. Dan Dailami Firdaus, merupakan sosok yang berusaha menjalankan amanah dari kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Selain memiliki komitmen kuat mengabdi dibidang pendidikan, dakwah dan sosial kemanusiaan, dia juga merupakan pengusaha berjiwa aktivis yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat

Lahir dari keluarga terpandang yang sangat dihormati, sejak dini dailami dididik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dengan nilai-nilai spiritual dan kepedulian sosial yang tinggi. Ibunya adalah Prof Dr Hj. Tutty Alawiyah, tokoh wanita muslimah yang mengabdikan seluruh hidupnya dibidang pendidikan, dakwah dan sosial, yang juga merupakan putri ulama kharismatis K.H. Abdullah Syafi’i. Sementara ayahnya, H.A. Chatib Naseh, adalah seorang pengusaha.

Selain menempuh pendidikan formal, Dailami juga mengecap pendidikan pesantren yang dikelola keluarganya sendiri. Kiprah sang bunda dibidang dakwah dan sosial kemanusiaan memberi pengaruh besar dalam dirinya.

“Di keluarga kami sejak dini ditanamkan bahwa kami harus mempunyai jiwa Islam, berjuang melalui pendidikan, dakwah dan sosial kemanusiaan. Tiga hal itu yang dijalankan oleh kakek saya dan turun-temurun hingga saya sebagai generasi ketiga,” ungkap Dailami.

Setelah lulus SMA, Dailami memiliki kesempatan untuk kuliah di luar negeri, namun justru dia memilih untuk kuliah di dalam negeri dan memutuskan melanjutkan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang, tahun 1983.guru besar

Tinggal jauh dari orang tua dan keluarga, Dailami mengaku harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kebiasaannya mengendarai mobil sendiri ketika di SMA harus dilupakan, dia bersikeras menjalani hidup layaknya mahasiswa “kampung”—-tinggal di kos-kosan, pergi pulang naik angkot, dan makan di warteg. Kesederhanaan hidup itulah yang membuatnya dapat menyatu dengan teman-teman kuliahnya, yang memberinya pelajaran bagaimana kerasnya memperjuangan hidup.

Aktif di senat dan di HMI, Dailami merasakan hikmah penting sebagai aktivis, terutama dalam hal menajamkan kepekaan dan kepedulian sosial serta nilai-nilai idealisme. Dan meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas organisasi, Dailami mampu meraih prestasi akademik yang membanggakan. Selain di FH, dia juga menempuh pendidikan diploma Bahasa Inggris di UB. Hingga tahun 1987, Dailami berhasil menyelesaikan pendidikannya, termasuk dari 10 lulusan tercepat FH UB dan menjadi wisudawan ke-2 terbaik se-universitas tahun 1987.

Kembali ke Jakarta, Dailami memutuskan untuk mengabdi di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA). Meskipun milik keluarga, dia harus memulai karirnya dari nol, sebagai dosen biasa. Tentu tidak mudah, bekerja sebagai bawahan di lembaga yang dimiliki keluarganya sendiri. Tetapi dari situlah dia mampu mengambil hikmah, dapat merasakan dan memahami apa-apa yang dihadapi oleh bawahan.

Tahun 1988 Dailami melanjutkan pendidikannya dibidang hukum internasional di American University – Washington DC, setelah menyelesaikan program diploma Bahasa Inggris di Philadelphia. Jiwa aktivis memudahkannya bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Amerika, diantaranya Hamid Awaludin (mantan dubes RI di Rusia) dan Joko Susilo (kini Dubes RI di Swiss).

“Karena mereka tahu saya putra ibu Tutty Alawiyah, saya jadi sering diminta untuk ceramah di kantor Kedubes RI untuk acara-acara keagamaan,” kenang Dailami.hipmi

Kesempatan menuntut ilmu seluas-luasnya merupakan satu hal yang sangat disyukuri Dailami. Usai meraih gelar master hukum (LL.M) dari American University tahun 1989, dia kuliah di IBMJ dan meraih gelar MBA tahun 1993. Selanjutnya dia menempuh program S-3 di Universitas Negeri Jakarta dan meraih gelar Doktor tahun 1999. Kemudian dia berangkat ke Mesir untuk memperdalam kemampuan bahasa Arab tahun 2004.

Karirnya dibidang pendidikan mulai terbuka setelah meraih gelar master tahun 1989, Dailami dipercaya sebagai Pembantu Dekan III FH UIA bidang kemahasiswaan tahun 1990, mendampingi Abdulrahman Saleh (Mantan Jaksa Agung RI) yang menjabat Dekan. Setelah masa tugas Abdulrahman Saleh selesai, Dailami diangkat menjadi Dekan FH UIA. Cukup lama sebagai Dekan, dia kemudian diberi amanah menjadi Pembantu Rektor IV dan selanjutnya kini dipercaya sebagai Wakil Rektor II.

Mengawali karir dari bawah, secara inten Dailami mencermati berbagai perkembangan dan perubahan yang terjadi di dunia pendidikan. Dan memimpin universitas swasta semakin tidak mudah, karena tidak hanya harus bersaing dengan perguruan tinggi swasta, tetapi juga harus bersaing dengan perguruan tinggi negeri yang kini diberi keleluasaan membuka program-program yang sifatnya luas ditambah lagi program-program mandiri. Karena itu, universitas swasta harus mampu mencari celah dan peluang yang bisa menjadi daya tarik, harus mampu memberikan nilai tambah bagi mahasiswa.

Selain sebagai pimpinan UIA, Dailami juga mengikuti jejak sang bunda aktif di kegiatan dakwah dan sosial kemanusiaan. Kini dia dipercaya sebagai Ketua Pengurus Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), organisasi yang dirintis Prof Tutty Alawiyah sejak tahun 1981 dan berkembang pesat dengan cabang-cabang aktif mulai dari Aceh hingga Papua, dengan anggota jutaan seluruh Indonesia.

Diakui Dailami, jejak dan kiprah sang bunda menjadi inspirasi terbesar dalam hidupnya. Tidak hanya dikenal sebagai tokoh muslimah kharismatik, Prof Tutty Alawiyah juga merupakan sosok pekerja sosial yang tangguh. Beliau mengembangkan Pesantren Khusus Yatim yang kini menampung sekitar tiga ratus dua puluh anak secara gratis. Ketika terjadi bencana tsunami Aceh, pesantren ini juga menerima lebih dari 250 anak yatim asal Aceh—-yang sebagian diberikan beasiswa hingga ke jenjang sarjana.

“Semangat dakwah beliau sungguh luar biasa,” ungkap Dailami. “Di usia beliau yang sudah 70 tahun, kesibukannya dibidang pendidikan, dakwah dan sosial kemanusiaan tidak berkurang. Beliau juga sosok ibu yang hebat, meskipun sangat sibuk, beliau tetap bisa menyisihkan waktu untuk kami.”

Pengusaha Berjiwa Aktivis

Darah pengusaha dari sang ayah rupanya terwariskan juga dalam diri Dailami. Disela-sela kesibukannya sebagai pendidik, sepulang dari Amerika, dia membuka usaha perbankan yang sedang booming pada saat itu yaitu dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) “Kharisma” di Jatiwaringin. Aktivitas bisnisnya terus berkembang, diantaranya dibidang perdagangan, agroindustri dan pertambangan.

“Kuncinya tentu bagaimana kita pandai-pandai mengatur waktu, fokus pada apa-apa yang kita prioritaskan,” tutur Dailami menjawab bagaimana menjalankan bisnis ditengah kesibukannya dibidang pendidikan, dakwah dan sosial kemasyarakatan. “Kita dituntut untuk mampu memilah mana yang bisa kita delegasikan dan mana yang tidak.”

Kegemarannya berorganisasi mendorong Dailami bergabung dengan Himpunan Penguhasa Muda Indonesia (HIPMI). Setelah memegang beberapa posisi penting, tahun 1999 dia dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum BPD HIPMI DKI Jakarta. Baginya, organisasi bukan sekedar media untuk membangun jejaring, melainkan lebih untuk membangun kebersamaan dalam memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat.

Krisis ekonomi 1998 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia, dimana industri pertanian menjadi salah satu pilar utama yang mampu membuat Indonesia bertahan. Dan berawal dari semangat untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani, Dailami menggagas berdirinya organisasi yang bertujuan membangun dan meningkatkan profesionalisme SDM dibidang pertanian. Setelah bertemu dan mendapat dukungan dari tokoh-tokoh dibidang pertanian, diantaranya Sholeh Sholahudin yang saat itu menjabat Menteri Pertanian, Dailami mendeklarasikan berdirinya Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI). Pada Munas MAI pertama tahun 1999, Dailami diberi amanat sebagai Ketua Umum DPP MAI.

“Ada satu ajaran dari ibunda saya yang selalu saya ingat, bahwa sebagian pikiranmu ada pada saudaramu,” kata Dailami. “Artinya kita tidak mungkin berhasil tanpa bekerja sama dengan orang lain, dalam hal apapun. Disitulah pentingnya kita menghargai orang lain, penting membangun sinergi.”

Untuk menjadi pengusaha yang tangguh, menurut Dailami, seseorang harus memiliki semangat pantang menyerah. Gagal itu merupakan hal yang biasa bagi pengusaha, yang tidak biasa adalah apabila seorang pengusaha berhenti dan menyerah pada saat dia mengalami kegagalan. Bahkan, meskipun dirinya berasal dari keluarga yang sangat dihormati, Dailamipun mengaku pernah kena tipu saat menjalankan bisnis. Dia meyakini bahwa ketangguhan seorang pengusaha akan diuji ketika dibenturkan dengan permasalahan-permasalahan.

Saya selalu ingat apa yang diajarkan ibunda kepada saya “Ibaratnya, ketika kita terhalang dinding, jangan menganggap dinding itu sebagai tembok, bisa saja itu hanyalah sebuah tirai yang bisa kita tembus untuk menuju ruang berikutnya,” tegas Dailami Firdaus.

* Dikutip dari Buku “Kiprah 100 Alumni Universitas Brawijaya”

Yang diterbitkan dalam rangka 50 Tahun Universitas Brawijaya, 2013.