{"id":1292,"date":"2016-04-30T03:46:40","date_gmt":"2016-04-30T03:46:40","guid":{"rendered":"http:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/?p=1292"},"modified":"2016-04-30T03:46:40","modified_gmt":"2016-04-30T03:46:40","slug":"abu-musa-jabir-ibn-hayyan-the-father-of-chemistery","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/abu-musa-jabir-ibn-hayyan-the-father-of-chemistery\/","title":{"rendered":"Abu Musa Jabir Ibn Hayyan \u201cThe Father of Chemistery\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"http:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/buckyball-1.gif\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1293 alignleft\" src=\"http:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/buckyball-1-300x300.gif\" alt=\"buckyball-1\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/buckyball-1-300x300.gif 300w, https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/buckyball-1-150x150.gif 150w, https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/buckyball-1-1024x1024.gif 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan sejarah Barat pun mengakui bahwa dasar-dasar ilmu kimia modern diletakkan para kimiawan Muslim. Tak heran, bila dunia menabalkan kimiawan Muslim bernama Jabir Ibnu Hayyan sebagai \u2018Bapak Kimia Modern\u2019.\u201dPara kimiawan Muslim adalah pendiri ilmu kimia,\u201d cetus Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M. Tanpa tedeng aling-aling, <strong>Will Durant<\/strong> dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith, juga mengakui bahwa para kimiawan Muslim di zaman kekhalifahanlah yang meletakkan fondasi ilmu kimia modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Durant, kimia merupakan ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh peradaban Islam. \u201cDalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan, peradaban Islam, papar dia, telah memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen yang terkontrol, serta catatan atau dokumen yang begitu teliti.Tak hanya itu, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam di era kejayaan telah melakukan revolusi dalam bidang kimia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kimiawan Muslim telah mengubah teori-teori ilmu kimia menjadi sebuah industri yang penting bagi peradaban dunia. Dengan memanfaatkan ilmu kimia, Ilmuwan Islam di zaman kegemilangan telah berhasil menghasilkan sederet produk dan penemuan yang sangat dirasakan manfaatnya hingga kini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berkat revolusi sains yang digelorakan para kimiawan Muslim-lah, dunia mengenal berbagai industri serta zat dan senyawa kimia penting. Adalah fakta tak terbantahkan bahwa alkohol, nitrat, asam sulfur, nitrat silver, dan potasium\u2013senyawa penting dalam kehidupan manusia modern\u2013merupakan penemuan para kimiawan Muslim. Revolusi ilmu kimia yang dilakukan para kimiawan Muslim di abad kejayaan juga telah melahirkan teknik-teknik sublimasi, kristalisasi, dan distilasi. Dengan menguasai teknik-teknik itulah, peradaban Islam akhirnya mampu membidani kelahiran sederet industri penting bagi umat manusia, seperti industri farmasi, tekstil, perminyakan, kesehatan, makanan dan minuman, perhiasan, hingga militer.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para ilmuwan seperti <strong>Jabir Ibnu Hayyan, Al-Razi, Al-Majriti, Al-Biruni, Ibnu Sina<\/strong>, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kimiawan Muslim itu telah memberi sumbangan yang berbeda-beda bagi pengembangan ilmu kimia. <strong>Jabir (721 M-815 M)<\/strong>, misalnya, telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuwan Muslim berjuluk \u2018Bapak Kimia Modern\u2019 itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia, seperti penyulingan\/distilasi, kristalisasi, kalnasi, dan sublimasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sang ilmuwan yang dikenal di Barat dengan sebutan \u2018Geber\u2019 itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.Berkat jasanya pula, teori oksidasi-reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, dan asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir. Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.<br \/>\nIlmuwan Muslim lainnya yang berjasa melakukan revolusi dalam ilmu kimia adalah <strong>Al-Razi (lahir 866 M)<\/strong>. Dalam karyanya berjudul, Secret of Secret, Al-Razi mampu membuat klasifikasi zat alam yang sangat bermanfaat. Ia membagi zat yang ada di alam menjadi tiga, yakni zat keduniawian, tumbuhan, dan zat binatang. Soda serta oksida timah merupakan hasil kreasinya.Al-Razi pun tercatat mampu membangun dan mengembangkan laboratorium kimia bernuansa modern. Ia menggunakan lebih dari 20 peralatan laboratorium pada saat itu. Dia juga menjelaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukannya. \u201cAl-Razi merupakan ilmuwan pelopor yang menciptakan laboratorium modern,\u201d ungkap Anawati dan Hill.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan, peralatan laboratorium yang digunakannya pada zaman itu masih tetap dipakai hingga sekarang. \u201cKontribusi yang diberikan Al-Razi dalam ilmu kimia sungguh luar biasa penting,\u201d cetus Erick John Holmyard (1990) dalam bukunya, Alchemy. Berkat Al-Razi pula industri farmakologi muncul di dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sosok kimiawan Muslim lainnya yang tak kalah populer adalah <strong>Al-Majriti (950 M-1007 M)<\/strong>. Ilmuwan Muslim asal Madrid, Spanyol, ini berhasil menulis buku kimia bertajuk, Rutbat Al-Hakim. Dalam kitab itu, dia memaparkan rumus dan tata cara pemurnian logam mulia. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan pertama yang membuktikan prinsip-prinsip kekekalan masa \u2013yang delapan abad berikutnya dikembangkan kimiawan Barat bernama Lavoisier.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sejarah peradaban Islam pun merekam kontribusi Al-Biruni (wafat 1051 M) dalam bidang kimia dan farmakologi. Dalam Kitab Al-Saydalah (Kitab Obat-obatan), dia menjelaskan secara detail pengetahuan tentang obat-obatan. Selain itu, ia juga menegaskan pentingnya peran farmasi dan fungsinya. Begitulah, para kimiawan Muslim di era kekhalifahan berperan melakukan revolusi dalam ilmu kimia. heri ruslan\/RioL<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Baca :<br \/>\n1) <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Alchemy_and_chemistry_in_Islam\" target=\"_blank\">http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Alchemy_and_chemistry_in_Islam<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2) <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Jabir_ibn_Hayyan\" target=\"_blank\">http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Jabir_ibn_Hayyan<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3) <a href=\"http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Al-Razi\" target=\"_blank\">http:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Al-Razi<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">4) <a href=\"http:\/\/labitacoradealchemy.blogspot.com\/2008\/06\/abu-musa-jabir-ibn-hayyan-al-azdi-geber.html\" target=\"_blank\">http:\/\/labitacoradealchemy.blogspot.com<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">dikutip dari <a href=\"http:\/\/www.tonyoke.wordpress.com\" rel=\"nofollow\">http:\/\/www.tonyoke.wordpress.com<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ilmu kimia merupakan sumbangan penting yang telah diwariskan para kimiawan Muslim di abad keemasan bagi peradaban modern. Para ilmuwan dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1293,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"pagelayer_contact_templates":[],"_pagelayer_content":"","footnotes":""},"categories":[90],"tags":[],"class_list":["post-1292","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wawasan-pengetahuan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1292","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1292"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1292\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1294,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1292\/revisions\/1294"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1293"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1292"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1292"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dailami-firdaus.net\/index\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1292"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}