Prof. Dr. H. Dailami Firdaus,  SH, LL.M (selanjutnya disebut Prof. Dailami) lahir di Jakarta, 12 Desember 1964,  merupakaan putra ke-2 dari pasangan ideal Bapak H. Ahmad Chatib Naseh bin Naseh dan  Prof.  Dr.  H. Tutty Alawiyah  AS, MA, cucu  dari  tokoh dan  ulama kharismatik asal  Betawi,  al-Maghfurlah, KH. Abdullah  Syafi`ie.    Nama Dailami  Firdaus  merupakan berkah dan  pemberian langsung  dari  KH. Abdullah Syafi`ie, diambil dari nama ulama besar dunia dan pakar di bidang hadits abad ke-6 H, yakni Abu Mansur al-Hafizh al-Mu’arrikh   Abu Syuja` al-Dailamy, pengarang kitab hadits, Musnad Firdaus al-Ma`tsur bi al-Khithab al-Dailamy.

Nama dalam pemikiran Barat hanyalah nama, tak lebih dari itu. Tidak demikian  dalam  pemikiran Islam.  Nama  adalah   harapan, do`a,  bahkan keberkahan (tafa’ulan). Nama  Prof. Dailami diberikan langsung  oleh  KH. Abdullah  Syafi`ie,  dengan harapan  kelak  cucunya   menjadi  orang  yang mulia, memiliki kompetensi keilmuan dan keulamaan, serta kejuangan dan pemihakan kepada umat dan bangsa. Do’a dan keberkahan itu kini menjadi kenyataan dan dirasakan oleh Prof. Dailami, sebagai tokoh serba bisa, multy talent dan  multy tasking, mengikuti jejak langkah  ibundanya, Prof. Dr. H. Tuttty Alawiyah AS, MA, menekuni dan menjelajahi peran-peran social dan lorong-lorong kehidupan, tanpa sekat,  dan melintas batas,  sebagai  ulama, da’i, akademisi, intelektual, eunterpreneur,  pengelola pendidikan tinggi, politisi, pemerhati dan pencinta seni budaya,  penggiat medsos,  youtuber, juga  pengasih  kepada  anak-anak  yatim   dan   kelompok   yang   kurang beruntung secara ekonomi, kaum dhu`afa dan mustadh`afin.

Harmonis, dan Samawa

Seperti dimaklumi, Prof. Dailami lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga bahagia, religius dan harmonis, serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan keluhuran budi pekerti (akhlaq al-karimah). Ayahnya, H Chatib Naseh  dikenal  sebagai   seorang yang  sangat mulia,  berbudi luhur,  dan pengasih kepada anak-anak yatim. Ibundanya, Prof. Dr. H. Tutty Alawiyah AS, MA, sudah semua orang mengenalnya, sebagai ulama perempuan yang kesohor, ustadzah, pendakwah, pejuang  (mujahidah), pemikir (mufakkirah) dan  penggerak (muharrikah) kemajuan masyarakat Islam yang tak  hanya dikenal    di  Indonesia, tetapi juga  masyhur di  dunia  Islam.  Sementara, kakeknya,   KH  Abdullah  Syafi`ie  adalah   guru  dan  ulama   yang  sangat dihormati. Pidato dan ceramah-ceramahnya masih dinikmati  oleh masyarakat di Jakarta hingga mancanegara sampai zaman kita hari ini.

Inilah lingkungan  keluarga yang kemudian membentuk sosok, karakter, dan jati diri Prof. Dailami.  Kesantunannya, sifat sabar, dan kasih sayangnya kepada anak-anak yatim dan kaum dhu`afa, diwarisi dari ayahandanya, H. Ahmad Chatib  Naseh.  Sementara keilmuan,  keulamaan, dan  ghirah-nya yang  kuat  dalam  kancah  dakwah  dan  Pendidikan Islam, mengalir  deras dari  ibundanya, Prof. Dr. H. Tutty Alawiyah AS, MA, dan kakeknya, KH Abdullah Syafi`ie.

Secara   psikologis,  watak   dan  kejiwaan   seorang, serta  apa  yang sekarang disebut life skill, sebagian besar dibentuk dan  ditentukan oleh atau   dalam  keluarga.   Keluarga,   seperti  disebut oleh  Rasulullah   SAW merupakan lingkungan  dan  lingkaran  pertama yang sangat berpengaruh terhadap kejiwaan   dan  jatidiri   seorang  anak   manusia.   Keluarga   juga sokoguru dan  miniatur dari  masyarakat Islam.  Maka,  benar apa  yang pernah dikatakan ulama besar dunia, Syekh Yusuf al-Qardhawi, “Tak akan pernah ada  komunitas Islam dan  umat  Islam, kecuali  ada  rumah  tangga- rumah tangga Islam.”

Belajar  dari  keluarga ini, Prof. Dailami sendiri  mampu  dan  berhasil membentuk keluarga dan rumah  tangga  yang religious dan harmonis atau keluarga bahagia  yang dalam bahasa al-Qur’an disebut “samawa” (sakinah, mawaddah wa-rahmah) bersama isteri  tercinta, Hj. Siti Rochmat  Hidayati, SE, dan  putra-putri tersayang, Abizar Hadi Ghifari, SE, drg. Finda  Dania Fadhilah,  Bintang  Akbar  Yusuf, SE, dan  Bunga  Dania  Fajriyah.  Mereka hidup bahagia, damai, dan penuh keberkahan, gemah ripah loh jinawi.

Keluarga  sungguh  penting,  selain  sebagai  “sokoguru”  seperti telah disinggung,  ia juga batu  ujian kepemimpinan. Sulit dibayangkan, seorang bisa sukses memimpin bangsa dan negara bilamana ia gagal dan tak mampu membangun keluarga dan rumah  tangganya sendiri. Dakwah  dan pendidikan Islam bermula dan dimulai dari sini. Semua  bermula dari diri, keluarga, masyarakat, dan seterusnya umat dan bangsa, serta kemanusiaan .

Harapannya, kepemimpinan integratif dan transformative yang kini diperankan oleh Prof. Dailami dapat membawa kebaikan dan memecahkan problem kepemimpinan yang selama  ini terjadi.  Kepemimpinan ideal memang menciptakan sejarah (shana`a al-tarikh), mengubah dunia (ghayyar al-`alam), dan setidaknya memberikan sumbangan yang mulia dan berharga baik  kemajuan umat  dan  bangsa.  Do’a kita  semua,  keluarga besar As- Syafi`iyah,  dan  seluruh masyarakat mengiringi  kiprah,  perjuangan, dan kepemimpinan Prof.  Dailami  dalam  mengibarkan panji-panji  Islam  dan dalam  mendorong kemajuan bagi  umat  dan  bangsa.  Selamat berjuang Profesor….!!!

 

Scroll to Top