Dailami Firdaus Prihatin Nasib Warga Muslim Uighur China

JAKARTA –  Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Prof Dr Dailami Firdaus merasa prihatin atas sikap China yang melakukan penahanan massal terhadap Muslim Uighur China.

“Pemerintah Tiongkok harus menghentikan kamp-kamp reedukasi dan penahanan terhadap Muslim Uighur sekarang juga,” tegas senator dari daerah pemilihan DKI Jakarta,  Kamis (20/12/2018).

Ia menambahkan Pemerintahan Tiongkok ditenggarai telah meluncurkan ‘program reedukasi’ semenjak tahun 2012, yaitu program pengumpulan warga yang ditujukan kepada 23 juta Muslim Uighur dalam sebuah lokasi secara massal.

Program reedukasi ini semakin menjadi-jadi ketika Chen Quanguo, pemimpin partai komunis garis keras yang sebelumnya bertugas di Tibet, mengambil alih kepemimpinan partai komunis untuk wilayah Uighur pada tahun 2016.

“Laporan yang masuk ke PBB dan organisasi HAM  menyatakan sekira 1 juta warga keturunan Muslim Uighur, Kazakh, dan minoritas muslim lainnya di Xinjiang, dipaksa mengikuti kamp-kamp reedukasi,  atau ditahan karena mempertahankan identitas agama dan budaya mereka,” kata Dailami Firdaus kembali.

Program reedukasi antara lain meliputi pelarangan jenggot panjang, pemakaian jilbab/hijab di tempat-tempat umum, memberi nama anak yang dicurigai berbau identitas keislaman, bahkan penghancuran masjid.

“Pelarangan-pelarangan seperti ini tidak bisa diterima akal sehat, yang hanya mungkin dilakukan oleh kaum anti Tuhan,” kata  Dailami.

Dailami Firdaus prihatin pemimpin politik dan anggota parlemen, khususnya di negara-negara muslim seolah-olah tidak peduli dengan tindakan-tindakan mengarah kepada penghapusan etnis (genosida) di Xinjiang, Barat Daya Tiongkok.

“Hanya karena hubungan ekonomi atau mungkin pemberian hutang dari Pemerintah Tiongkok, politisi dan anggota parlemen di negara muslim tidak ada yang mengkritisi isu muslim Uighur dan Xinjiang,” tegas Dailami Firdaus.(johara/tri)

author
No Response

Leave a reply "Dailami Firdaus Prihatin Nasib Warga Muslim Uighur China"