Ibunda yang Sangat Luar Biasa..!

No comment 1279 views

DF dan ibunda Tutty AlawiyahProf. Dr. H. Dailami Firdaus merasa bangga sebagai Putra seorang Tokoh yang begitu dikenal di kalangan Dunia, Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah binti Abdullah Syafi’ie. Melalui Buku “Mereka Bicara Tentang Kak Tutty” – 70 Tahun Tutty Alawiyah, anggota DPD-RI mengungkapkannya secara luas.

Dengan mengucap syukur yang tak henti-hentinya kehadirat Allah SWT, tanggal 30 Maret 2012, Ibundaku tersayang, genap berusia tujuh puluh tahun!. Usia yang tidak semua orang dapat merasakannya. Allahu Akbar..! Teringat sebuah hadist Rasulullah SAW “Khoirukum man thola umruhu wa hasuna ‘amaluhu”; sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan bagus pekerjaannya.

Ibunda adalah sosok yang sesuai hadits tersebut diatas, karena sejak umur tujuh tahun telah pandai membaca Al-Qur’an. Umur Sembilan tahun, beliau membaca Al-Qur’an pada event yang sangat bergengsi yaitu di Istana Merdeka, di depan Presiden Soekarno!. Saat maulid pertama diadakan di Istana Merdeka, dan sampai detik ini pun beliau tetap bekerja keras, dengan speed tinggi, berjihad dalam bidang dakwah, pendidikan dan sosial.

Saya sangat bersyukur terlahir sebagai salah seorang putra dari seorang sosok yang sangat luar biasa Tutty Alawiyah. Sungguh sangat beruntung saya, karena beliau telah memberikan segalanya kepada saya. Kecintaan, kasih sayang, perhatian dan segalanya. Tak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata.

Rasa sayang beliau kepada kami, semua anak-anaknya diberikan dengan tidak dibeda-bedakan, semua mendapat kesempatan dan kasih sayang yang sama. Tetapi, keberuntungan yang kami dapatkan, putra putrinya tidak dirasakan oleh ibunda kami. Sewaktu kecilpun, beliau harus berjuang keras hanya untuk masuk sekolah SR (Sekolah Rakyat sekarang berubah SD- Sekolah Dasar).

Berjuang keras membujuk ayahandanya (K.H. Abdullah Syafi’ie) agar beliau boleh bersekolah di SR, bersama sepupunya “Kak Dadah” (biasa saya memanggilnya) yang sudah bersekolah disana, akhirnya setahun setelah Kak Dadah bersekolah disana, ayahanda beliau menyetujui untuk sekolah dan diantar masuk ke sekolah SR “Kibono” di Manggarai, Jakarta Selatan.

Akan tetapi ibunda tidak mau masuk sekolah kelas satu, ingin masuk langsung di kelas dua SR Kibono. Dengan perjuangan pun, diperkenankan masuk di SR kelas dua..! Begitu juga beliau tidak diperkenankan masuk ke sekolah SMP oleh ayahnya, tapi beliau mesti sekolah di ‘dalam’, artinya di As-Syafi’iyah saja bukan di negeri diluar As-Syafi’iyah. Untuk SMPnya, Ibunda melanjutkan sekolah dengan “Pos” dari Jogja.

Jadi sejak kecil, beliau sudah terbiasa berjuang, hingga beliau mendapat pengakuan Doktor dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, di Jakarta, dan kemudian mendapat pengakuan dan diangkat menjadi guru besar / Profesor dari sebuah Universitas ternama di China, Liu Zhou.

Sungguh perjalanan karier pendidikan yang sangat luar biasa. Sangat jarang orang dapat berhasil mencapai ke jenjang pendidikan tertinggi, dengan liku yang sedemikian berat, tetapi dengan tekad dan perjuangan, semua terlampaui dan tercapai..!

Ibunda saya adalah sosok yang punya pikiran maju dan berpikir sangat jauh ke depan, tidak berlebihan saya katakan demikian, kenapa..? Karena hal ini saya rasakan sendiri. Sejak SD saya telah mempunyai pengalaman yang berbeda dengan anak-anak SD seusia saya. Ketika saya berada di kelas tiga SD, ibunda telah memindahkan saya untuk bersekolah internasional yang khusus diperuntukkan untuk anak-anak Duta dan orang-orang asing di Indonesia yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Inggris. Nama sekolahnya, Pakistan Embassy School yang berlokasi di Menteng, Jakarta Pusat. Saya berada di sekolah ini selama tiga tahun lamanya.

Saya sangat beruntung karena tiga tahun berada di sekolah tersebut, kemampuan Bahasa Inggris saya berada diatas rata-rata anak-anak seusia saya. Hal ini karena waktu itu SD, tidak diajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris. Dan ketika kelas enam, saya kembali bergabung ke SD, saya diminta membantu guru kelas saya, Pak Yusuf, untuk mengajarkan kemampuan Bahasa Inggris saya kepada teman-teman sekelas saya.

Dengan kemampuan bahasa yang saya miliki, saya menjadi lebih percaya diri dan Alhamdulillah, sejak SD, SMP, SMA sampai Universitas, saya dapat menempuh dengan tanpa hambatan ke sekolah Negeri dan Universitas Negeri di Kota Malang, Jawa Timur, yaitu Universitas Brawijaya Malang.

Setelah menyelesaikan ke-Sarjanaan S.1 saya, Ibunda pun membolehkan saya melanjutkan sekolah ke luar negeri, yaitu ke Amerika Serikat. (Padahal, beliau masuk SR saja penuh dengan perjuangan dan hampir-hampir tidak diperbolehkan masuk sekolah oleh Ayahnya). Tapi pengalaman beliau tidak diterapkan ke anak-anaknya. Beliau tidak melakukan “Balas-Dendam”, tetapi justru memberikan kesempatan seluas-luasnya sekolah sampai kemanapun. Ibunda saya cari biaya dan upaya agar anak-anaknya dapat bersekolah.

Setelah menyelesaikan program master saya di Amerika Serikat, saya pun diberi semangat untuk mengambil pengalaman belajar di Mesir, walau hanya melanjutkan studi saya kepada program Doktor. Namun Alhamdulillah, berkat dorongan semangat yang tidak henti-hentinya, akhirnya Doktor saya terselesaikan dengan baik. Dan saya pun sampai kepada jenjang tertinggi dari bidang akademik, mendapat gelar Profesor dari Jiaying University di China, dan inipun berkat dorongan dan semangat serta ikhtiar Ibunda saya… Allahu Akbar!.

Saya sangat bersyukur, bahwa saya sering diajak dan ikut ibunda bepergian ke luar negeri. Semua benua telah saya jajaki, dari Benua Australia sampai Benua Amerika, dari Benua Afrika sampai Eropa, serta tentunya Benua Asia. Saya beruntung dapat mendampingi Ibunda dalam berbagai konprensi internasional sehingga saya banyak belajar dari Ibunda. Semangat, keteguhan, keberanian dan keikhlasan beliau dalam berbagai aspek. Tidak saja dalam keluarga, tetapi juga dalam bergaul dengan semua kalangan.

Tutty Alawiyah sebagai ibunda saya yang sudah dikenal berbagai tokoh, bukan saja berhasil menjadi teladan ummat, juga teladan bagi kami. Keberhasilan beliau di luar, juga dibarengi dengan keberhasilan mengurus rumah tangga. Beliau adalah figur yang seimbang, berhasil membina ummat, berhasil membina keluarga.

Semua ini tak lain karena komposisi yang serasi antara ibunda dan ayahanda. Ibunda adalah figur pendobrak, ayahanda adalah figur penyabar. Kami semua mencontoh kepada mereka berdua. Ibundaku Tutty Alawiyah adalah figur yang luar biasa.

Ibunda kami ada beberapa hal yang sangat tidak disukai dan ini diterapkan kepada kami, yakni ‘menunda-nunda pekerjaan’, tidak tegar, dalam istilah orang Betawi; Belum Sampai Sudah Pulang. Menurut Beliau jangan melihat sesuatu seperti tembok, siapa tahu hanya tirai. Inilah pegangan-pegangan hidup beliau yang mungkin saja menjadikan dirinya orang besar, sangat disegani dan dikenal berbagai kalangan tokoh di seluruh dunia.

Masih banyak yang menyangkut dari hal-hal keseharian beliau yang saya sampaikan dan berbagi pengalaman kepada semuanya, apalagi saya sangat begitu dekat dengan kehidupan beliau sejak saya dilahirkan oleh beliau, baik dalam suka dan duka serta rasa sayang yang mendalam.

Diketik kembali dari Buku “Mereka Bicara Tentang Kak Tutty” medio 30 Maret 2012.

DF 2

 

 

 

 

 

 

 

DF 4

 

 

 

 

 

 

 

DF 5

author
No Response

Leave a reply "Ibunda yang Sangat Luar Biasa..!"