Filosofi Insya Allah

No comment 773 views

Ungkapan “Insya Allah” sudah sangat lazim di kalangan kaum muslim. Ungkapan yang secara harfiah bermakna “Jika Allah Menghendaki” ini sesungguhnya mengandung makna teologis yang amat dalam. Dengan “Insya Allah,” pelakunya hendak mengembalikan segala sesuatu kepada kehendak dan kuasa Allah.

Seusai perang Khaibar, Nabi dan kaum Muslim yang tampak lelah mencari tempat istirahat di jalan. Nabi saw mengingatkan dan bertanya siapa yang bisa membangunkan untuk shalat shubuh. Sahabat Bilal ibn Rabah meyatakan kesiapan dan kesanggupannya. Mereka pun tertidur lelap hingga terbit matahari. Nabi saw adalah orang pertama yang mula-mula terbangun.

Rasulullah saw menegur Bilal karena tidak melakukan janjinya. “Maaf tuan, aku belum pernah tidur sepulas malam ini,” kata Bilal. “Kalau saja kamu mengatakan “Insya Allah,” kamu akan terjaga,” kata Nabi. Kemudian beliau menyuruh para sahabat mengambil air wudhu, lalu mereka shalat shubuh. (Hayat al-Shahabah, Biografi Bilal).

Peringatan Nabi saw kepada sahabat Bilal ini mengandung beberapa pelajaran penting. Pertama, manusia sesungguhnya tidak memiliki kapasitas dan kapabilitas menyangkut barang ghaib. Untuk soal yang satu ini, ia tak boleh lupa kehendak dan kuasa Allah. (QS. Ali Imran [3]: 154).

Kedua, untuk mencapai sukses, manusia bisa menyusun strategi, metodologi, dan menyiapkan berbagai instrumen pendukung sesuai hukum sebab-akibat (kausalitas). Namun, semua persiapan lahiriyah itu belumlah dianggap cukup. Ia harus pula mengembalikan rencana sukses itu kepada Tuhan. Sebab, pada kenyataannya, seperti kata parabel, “Manusia hanya berencana, Tuhan jua yang menentukan.”

Ketiga, Nabi sendiri pernah diingatkan oleh Allah, agar jangan berkata pasti. Sewaktu ditanya soal Ash-hab al-Kahfi, Nabi memastikan jawaban besok pagi. Gara-gara itu, wahyu justru terhenti, tidak turun, selama 15 hari. Lalu, turun ayat ini: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali [dengan menyebut] “Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi [18]: 23-24).

Disadari, ungkapan “Insya Allah” yang dilakukan oleh sebagian orang sekadar basa-basi, apalagi hanya untuk menunjukkan ketidak seriusan dalam komitmen, maka ungkapan seperti itu tak diragukan lagi menyimpang dan keluar dari petunjuk Islam. Perlu diketahui, kata “Insya Allah” bukanlah eufemisme dan bukan pula labirin untuk menutup kepalsuan! Wallahu a`lam!

author
No Response

Leave a reply "Filosofi Insya Allah"