Jalan Tuhan

No comment 668 views

Agama, menurut al-Ghazali, adalah jalan atau perjalanan menuju Allah. Dalam terminology sufistik, perjalanan ini dinamai al-suluk, sedang pelakunya dinamai al-Salik, sang penempuh perjalanan, dan yang dituju (al-mathlub) dalam perjalan ini, tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT semata (Mizan al-`Amal, 1979).

Dalam bahasa yang lebih umum, perjalanan ini dinamai taqarrub, yaitu proses mendekatkan diri kepada Allah. Taqarrub ini valid, absah, karena Allah adalah dekat, qarib (al-Baqarah [2]: 186), bahkan lebh dekat dari urat nadi manusia. (QS. Qaf [50]: 16).

Dalam al-Qur’an, agama memang dilambangkan dengan jalan. Agama disebut Sabil-i Allah, jalan Allah, shirath al-mustaqim, jalan lurus, lalu syari`ah atau syir`ah, dan minhaj, yang semuanya berarti jalan, tepatnya jalan Tuhan. Kata Sabil diulang sebanyak 176 kali, shirath 145 kali, syari`ah 2 kali, dan minhaj 1 kali. (Mu`jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur’an).

Filosofi jalan ini menarik dan perlu dipahami. Ibarat jalan, agama atau beragama tidak boleh putus. Ia merupakan perjalanan yang konstan dan terus menerus (constant and continuous journey) hingga sampai di ujung perjalanan pada waktu kita bertemu dengan Allah. (QS. Al-Hijr [15]:99).

Jalan Tuhan (sabil-I Allah), menurut Sayyid Quthub, mengandung tiga makna dasar. Pertama, al-haqq al-muthlaq, kebenaran mutlak, yaitu kebenaran yang sejati, merupakan kebenaran universal (kulliyyat), bukan kebenaran particular (juz’iyyat). Terma al-Haqq itu sendiri secara bahasa berarti kuat dan mantap. Maka agama Islam, al-Qur’an, dan Allah swt disebut al-Haqq. (QS. Al-Isra [17]: 81)

Kedua, jalan tuhan bermakna al-khair al-muthlaq (kebaikan mutlak). Dalam al-Qur’an dibedakan antara al-khair dan al-ma`ruf. Kata al-khair menunjuk kepada kebaikan universal, sedangkan al-ma`ruf berarti kebaikan yang dikenal oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain al-ma`ruf adalah kebaikan budaya atau yang sekarang dinamakan kearifan lokal. Islam mengajarkan al-khair, sekaligus mengakui dan menyuruh kepada yang ma`ruf (QS. Ali Imran [3]: 104).

Ketiga, jalan Tuhan bermakna al-`adl al-muthlaq (keadilam mutlak). Seperti diketahui, adil adalah suatu keutamaan (fadhilah), pangkal dari segala kebaikan. Dalam al-Qur’an, adil disebut sebagai nilai tertinggi yang paling mendekati takwa (QS. Al-Maidah [5]: 8). Adil juga merupakan hukum kosmik, yang harus dijaga dan ditegakkan agar tidak terjadi kekacauan, chaos, dis-stabilitas, dan dis-equilibrium social. (QS. Al-Rahman [55]: 7-8).

Inilah tiga nilai dasar yang terkandung dalam agama sebagai jalan Tuhan, yaitu jalan kemuliaan. Peradaban Islam sesungguhnya berakar pada tiga nilai dasar ini. Agama, karenanya dapat disebut sebagai induk dari peradaban (the mother of culture and civilization).

Setiap orang beriman, dipanggil agar menghidupkan nilai-nilai dasar, yang menjadi pangkal keadaban itu, agar dunia dalam usianya yang semakin tua, tidak terjebak pada ancaman kekerasan dan kebiadaban. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya, yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An`am [6]: 153).Wallahu a`lam!

author
No Response

Leave a reply "Jalan Tuhan"